Bagaimana Sih Cara Menjaga dan Menurunkan Suhu Tubuh Anak


Ketika anak mengalami suhu tubuh yang tinggi, tidak hanya sekadar angka di termometer, melainkan juga bagaimana kondisi fisik, tingkat orientasi, dan perubahan sensasi yang dialami. Sebagai orang tua atau pengasuh, memahami kapan suhu dianggap “tinggi”, bagaimana menanganinya dengan tepat, dan kapan harus mendapatkan pertolongan medis sangatlah penting terutama agar risiko komplikasi seperti kejang demam atau dehidrasi dapat dihindari.

Apa yang Dimaksud Suhu Tubuh yang Tinggi pada Anak?

Suhu tubuh anak dikatakan tinggi biasanya berkisar 38,5 °C hingga 39 °C. Namun perlu diingat: angka termometer hanya bagian dari gambaran. Kondisi anak (misalnya gampang rewel, sulit bernafas, tidak responsif) lebih penting untuk diperhatikan. Panduan dari National Institute for Health and Care Excellence (NICE) menyebutkan bahwa pengukuran suhu harus dilakukan dengan benar (misalnya lewat ketiak atau telinga sesuai usia). 

Mengapa Kita Perlu Menangani Suhu Tubuh yang Tinggi?

Penanganan awal suhu tubuh tinggi pada anak memiliki beberapa tujuan, antara lain:

  • Menurunkan suhu ke level yang lebih normal (misalnya kisaran ~36,5-37,5 °C) agar anak lebih nyaman.
  • Melindungi fungsi sistem saraf pusat dan menghindari kerusakan jangka panjang yang mungkin mempengaruhi perkembangan anak.
  • Mencegah komplikasi serius seperti kejang demam, dehidrasi berat, atau kerusakan otak.

Dengan demikian, mengetahui langkah-langkah penanganan, kapan cukup di rumah, dan kapan harus mencari bantuan medis sangatlah krusial.

Langkah-Langkah Menangani Suhu Tubuh Tinggi pada Anak

Berikut ini adalah panduan langkah-per-langkah yang dapat dilakukan di rumah untuk membantu anak yang mengalami suhu tubuh tinggi:

1. Pindahkan anak ke tempat yang lebih sejuk

Jauhkan anak dari sumber panas langsung atau sinar matahari. Jika berada di luar ruangan, pindahkan ke tempat yang teduh dan pastikan sirkulasi udara baik. Suasana ruangan sebaiknya nyaman, tidak terlalu panas, dan usahakan anak cukup bernapas dengan bebas.

2. Lakukan pendinginan tubuh secara aktif

Kompres dengan handuk atau kain yang dibasahi air dingin (contoh: bagian kepala, ketiak, leher, selangkangan) agar proses pelepasan panas tubuh lebih cepat. 

Peringatan: Hindari metode yang terlalu ekstrem seperti air sangat dingin atau menggunakan alkohol untuk mengompres — bisa menyebabkan syok atau menggigil, yang ironisnya dapat menaikkan suhu tubuh bagian dalam.  Untuk kasus hipertermia atau “heat-stroke”, metode seperti pendinginan evaporatif (mist + kipas) direkomendasikan. 

3. Berikan cairan untuk mencegah kehilangan cairan

Anak dengan demam cenderung kehilangan cairan lebih cepat karena keringat, napas cepat, atau menurunnya nafsu makan. Berikan air putih atau cairan lain seperti sup bening atau es loli (jika anak menerima) supaya hidrasi tetap terjaga. Perhatikan tanda-tanda dehidrasi: mulut kering, sedikit atau tidak buang air kecil 6-8 jam, anak sangat lesu.

4. Longgarkan atau lepaskan pakaian

Kenakan pakaian ringan dan nyaman — jangan membebani dengan banyak lapisan pakaian atau selimut tebal yang justru menghambat pelepasan panas. Bila perlu, lepaskan pakaian anak agar proses pendinginan lebih optimal.

5. Pantau tanda-tanda vital dan tingkat kesadaran

Perhatikan suhu tubuh, denyut nadi, laju napas, dan kondisi kesadaran anak. Waspadai jika anak mulai berbicara kacau, tidak responsif, mengalami kejang, atau kulitnya panas dan kering (tidak berkeringat) kondisi seperti ini menandakan keadaan darurat. 

6. Dapatkan penanganan medis segera pada kasus berat

Bila anak menunjukkan tanda-tanda serius seperti kehilangan kesadaran, kejang demam, kesulitan bernapas, suhu sangat tinggi (> 40 °C), segera bawa ke dokter atau rumah sakit. Jangan tunda, apalagi jika kondisi dasar anak berisiko (misalnya imun lemah, penyakit kronis, bayi baru lahir).

Cara Mengelola Demam di Anak: Pedoman Umum

  1. Tidak semua demam harus diturunkan segera, kadang tubuh menggunakan demam sebagai mekanisme pertahanan diri melawan infeksi. 
  2. Jika anak tampak nyaman (makan/minum cukup, aktif meski demam), pengobatan segera bisa ditunda. Fokuslah pada kenyamanan anak. 
  3. Obat penurun demam seperti Acetaminophen atau Ibuprofen bisa digunakan sesuai dosis dan usia anak, namun tidak menggantikan penanganan yang tepat terhadap penyebab demam. 
  4. Jangan gunakan aspirin untuk anak/teens yang demam — bisa risiko sindrom Reye. 
  5. Monitor tren suhu: bila naik terus, berlangsung >3 hari, atau anak makin memburuk, konsultasikan ke tenaga medis. 

Kapan Harus Khawatir dan Menghubungi Dokter?

Beberapa kondisi yang sebaiknya membuat orang tua segera mencari bantuan:

  1. Anak usia di bawah 3 bulan mengalami suhu ≥ 38 °C. 
  2. Demam berlangsung lebih dari 3 hari atau memburuk.
  3. Anak tampak lemah, sangat rewel atau sulit dibangunkan.
  4. Ada gejala lain seperti ruam, kesulitan bernapas, muntah terus-menerus, tidak buang air kecil lama.
  5. Demam disertai kejang, kekakuan leher, nyeri hebat, atau telah berada di tempat yang sangat panas (potensi heat stroke).
Berikut ini leaflet cara menjaga dan menurunkan suhu tubuh pada anak


Menangani suhu tubuh tinggi pada anak bukan hanya soal “menurunkan angka” semata, melainkan menjaga kenyamanan, hidrasi, pengaturan lingkungan, dan memperhatikan gejala-peringatan serius. Dengan langkah-langkah yang tepat di rumah dan pemantauan yang cermat, banyak demam pada anak dapat dikelola dengan baik. Namun, jangan ragu untuk segera mencari bantuan medis bila kondisi menunjuk ke tanda bahaya.

Referensi:

Agustina, N., Nurhaeni, N., & Wanda, D. (2019). Kompres dengan teknik warm water sponge pada pasien anak yang mengalami demam. The Indonesian Journal of Infectious Diseases, 7(2). https://doi.org/10.32667/ijid.v7i2.119 

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). (n.d.). Penanganan demam pada anak. Retrieved from https://www.idai.or.id/artikel/klinik/keluhan-anak/penanganan-demam-pada-anak 

Ismoedijanto. (2000). Demam pada anak. Sari Pediatri, 2(2), 103-108. https://saripediatri.org/index.php/sari-pediatri/article/viewFile/1037/967 

Lubis, I. N. D., & Lubis, C. P. (2011). Penanganan demam pada anak. Sari Pediatri, 12(6), 409-418. https://saripediatri.org/index.php/sari-pediatri/article/download/479/416 

Sudibyo, D. G., Anindra, R. P., Gihart, Y. El, Ni’azzah, R. A., Kharisma, N., Pratiwi, S. C., … Hermansyah, A. (2020). Pengetahuan ibu dan cara penanganan demam pada anak. Jurnal Farmasi Komunitas, 7(2), 69. https://e-journal.unair.ac.id/JFK/article/download/21808/11959/82713 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pemeriksaan Telinga: Tes Weber, Rinne, dan Schwabach

Latihan Batuk Efektif: Cara Benar Mengeluarkan Dahak dan Melancarkan Pernapasan